Sabtu, 08 September 2012

cerita tentang kupu-kupu

Tahukah kalian tentang butterfly efect.
sebuah teori yang menyatakan bahwa kepakan sayap kupu-kupu di hutan belantara Brazil dapat menghasilkan tornado di Texas beberapa bulan kemudian.

Saya tak akan panjang lebar menjelaskannya pada kalian, pelajarilah sendiri jika memang mau.

Yang mau saya sampaikan disini adalah bahwa sebuah akibat bisa terjadi karena berbagai sebab, baik satu maupun banyak, besar maupun kecil.

Beberapa saat yang lalu secara iseng saya membaca sebuah notes 
di facebook, tentu saja ada hal tentang saya-nya disitu.

Di masa yang lalu saya pernah menjadi kontributor untuk sebuah bulletin di sekolah. Tak ada yang istimewa padanya, tak juga banyak yang membacanya. Hingga suatu hari beberapa tahun kemudian ada seseorang yang dengan terang-terangan menuliskan bahwa tulisan saya telah begitu mempengaruhinya.
Baru kali ini saya mendapatkan apresiasi seperti itu, tentu saja saya sedikit terharu dan senang bahwa tulisan itu, yang materinya sedikit banyak saya sadur dari mana-mana, bisa membawa manfaat yang baik, setidaknya untuk seseorang tersebut.

Saya merasa senang untuknya namun saya bersedih atas diri saya sendiri.
Terang saja, saya sedikit melupakan tulisan tersebut, secara harfiah dan maknawi, juga fakta bahwa saya pernah membuat tulisan seperti itu. Well, saya sebenarnya menitikkan sedikit air mata.

Untuk itu, sepantasnya sayalah yang berterima kasih. Saya tak dapat memberikan sebanyak 5 truk terima kasih seperti yang kamu beri. Saya hanya ber-Terima Kasih.

Lihaktan, sesuatu yang mungkin kita anggap biasa-biasa saja bisa memberi pengaruh yang cukup besar bagi orang lain.
Marilah berbuat kebaikan sebanyak-banyaknya, mungkin tidak serta merta kita merasakan efeknya, namun bukankah kita percaya, bahwa Raqib selalu mencatatnya.

Sabtu, 10 Maret 2012

lelaki dengan sedikit kata

tersebutlah seorang lelaki dengan sedikit kata
begitu pemalu hingga sulit untuk bercerita
ketika berbicara gemetar gigi geliginya
keringat mengalir deras dari ujung kepalanya

diam adalah emas
lebih baik diam daripada mengatakan hal yang tak berguna
berkali-kali melakukan pembenaran dengan kalimat-kalimat mutiara

wahai lelaki pemalu, jika engkau percaya dengan kata-kata emas itu
bukankah begitu banyak kebenaran yang bisa kau suarakan
meski bergetar apa yang ada di dalam dadamu
meski kau rasa mau copot engsel-engsel lututmu
lantanglah . .
jangan kau jadi lelaki dengan banyak alasan

being ordinary is the best

kami bahagia hanya dengan melihat matahari terbenam di sore hari
kami tetap bahagia meski tak menjadi penulis atau musisi
kami bahagia menjalani kehidupan yang normal, seperti kebanyakan mereka

tapi mengapa kamu begitu berbeda
melihat matahari terbenam tidak akan membuatku bahagia, ucapmu
aku ingin sesuatu yang bisa membuatku merasa benar-benar hidup, katamu
kamu memang tidak cocok hidup normal, kataku

orang-orang berbuat ini itu dan kau ingin mengikutinya, so ordinary man . .katamu lagi
being ordinary is the best bro, timpalku

kamu memang suka hal-hal yang obscure, keren, katamu...
menyukai dan melakukan hal yang tak dilakukan orang lain . .
sedang ke-obscure-an yang kusuka hanyalah camera obscura

lalu kau mulai bertutur kata
kebanyakan manusia hidup semau mereka, dan aku tak mau seperti itu
mereka bahkan sedikit sekali peduli terhadap sesamanya, muak aku dibuatnya
kenapa adele bisa menang grammy, karena banyak yang suka, padahal menuruktu biasa saja
(mulai tak jelas kau bicara, gerutuku dalam hati)
banyak muslim di indonesia, tapi maunya demokrasi saja
akh . .
kalo bisa aku ingin pergi ke bulan saja

STOP!! kataku
lalu kami diam tanpa kata dan hanya bertatap mata



Kamis, 09 September 2010

untitled #1

Tak Terasa besok udah lebaran.

tak seperti temannya yang lain, Ruskendi alias Endii cuman di beliin baju koko aja sama emak-nya.

padahal di rumahnya Endi ga punya banyak baju untuk di pake, nasib2 . .


Endi baru mudik beberapa hari yang lalu dari 'kota' tempat dia mengadu nasib mencari lembaran bung karno-bung hatta.

sayangnya, entah karena capek atau kaget diomelin emak gara2 rambutnya endi mirip Paul McCartney, tekanan sistolik endi naek sampe 150.

kemaren endi dianter emak ke dokter. dokternya masi muda, lumayan ganteng pula, tapi bukan seleranya endi, karena dokternya rada songong jadi endi gak suka.


Hari ini endi ngerasa badannya udah agak mendingan, setelah tadi sore dipijit sama mang uyep.

selain tukang pijit, ternyata mang uyep seorang ahli sarap juga.

kata mang uyep pembuluh darah di kakinya endi kesumbat.

maka dari itu mang uyep dengan sigap memijit dan memelintir jari kaki endi hingga endi gelagapan saking enaknya.


Malam ini, tak seperti malam2 lebaran sebelumnya, endi hanya berdiam diri di rumahnya nemenin emak yang lagi beres2 rumah.

dulu, waktu masi muda sekali,

endi pasti keluar waktu takbiran, entah itu untuk sekedar ngeliatin orang2 mukul2 beduk ato menikmati bisingnya bunyi petasan.

pernah endi bersama rekan2 keliling rumah warga minta makanan2 kecil, meski terkadang berakhir di rumahnya bang kempes yang lagi nyetel pisidi Dono.

pernah juga endi menghabiskan malam takbiran di bus CBU yang terparkir di kaki gunung, entah apa yang ada dipikiran endi waktu itu.


Ketika awal ramadhan endi pernah mencanangkan resolusi ( sebenarnya endi tidak begitu mengerti apa artinya).

endi pengen namatin baca qur'an pas ramadhan meski yang terealisasi hanya beberapa ayat saja yang kebanyakan dibaca waktu sholat.

endi pengen sholat malam di setiap malam ramadhan, namun endi hanya mampu melaksanakannya di sepertiga bulan awal ramadhan.

endi pengen banyak membaca buku, walau akhirnya hanya beberapa lembar saja yang ia dapat.


Ramadhan taun ini telah usai, hingga endi menyimpan resolusinya untuk taun depan, jika masih bisa ketemu.